Gaduh Pasien Miskin di RSCM

Kunci penyelesaian JamKesMas dan Dokter Keluarga

 

 

 

Pendahuluan

 

Hati kita tersentak oleh fenomena pasien miskin (Gakin) yang semula menginap di kolong-kolong tangga Irna B RSCM terpaksa tergusur, lalu menginap di kantor LBH dan terakhir berkat kebaikan hati seorang dermawan mereka menginap di Jl. HOS Cokroaminoto. RSCM dan Dept Kesehatan diberitakan menelantarkan, mengusir dan sebagainya. Saya baca pada suatu surat kabar, bahwa RSCM dan Dept Kesehatan dibilang diam saja, tutup mulut bahkan dikatakan tidak peduli pada rakyat miskin. Apakah makna fenomena ini? Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran yang lebih rasional terhadap fenomena tersebut. Sekaligus memberikan jawaban yang mendasar pada masa depan. Bahasan dibagi dalam 3 bagian, yaitu Sistem Kesehatan Nasional beserta Jaminan Kesehatan Nasional (JamKesMas), kedua tentang RSCM, dan ketiga Sistem Dokter Keluarga.

 

Sistem Kesehatan Nasional

 

Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dirumuskan sebagai implementasi Undang-undang No. 23 tahun 1989 tentang Kesehatan. Perinsip dasar dari SKN adalah pelaksanaan salah satu amanat pembukaan UUD 1945, yaitu mensejahterakan rakyat Indonesia. Perinsip dasar ini sekaligus salah satu aspek tugas negara (yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama seluruh masyarakat) dengan sendirinya tersusun dalam suatu kerangka yang dengan sendirinya mulai dan visi-misi-tujuan program, dan rencana pelaksanaan sampai implementasi dan susunan standar operasional. Kerangka utama SKN dapat disimpulkan terdiri atas 3 bagian. Pertama, pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya, kedua Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ketiga adalah pemberdayaan manusia Indonesia agar mampu memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

Pelaksanaan SKN dengan sendirinya menjadi tanggung jawab Dept Kesehatan ditunjuang oleh departemen lain khususnya dalam bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Rumusan upaya kesehatan dilaksanakan secara holistik, komprehensif dan integratif pada 4 bidang sasaran utama, yaitu usaha-usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Kita ambil contoh bidang kuratif, yang maksudnya menyembuhkan orang yang sudah sakit. Fenomena adanya orang miskin yang sakit yang terpaksa tergusur dari RSCM adalah pelaksanaan bidang kuratif.

Pelayanan kuratif dalam SKN tersusun dalam 3 strata, pertama pelayanan primer yang dilaksanakan di Puskesmas dan praktek dokter umum swasta yang umumnya dilaksanakan sore hari. Strata kedua adalah pelayanan sekunder yang dilaksanakan oleh rumah sakit tipe C dan tipe B, disertai praktek dokter spesialis. Strata ketiga adalah pelayanan tertier, yaitu upaya penyembuhan bagi pasien yang memerlukan teknologi tinggi dan bersangkutan dengan proses keilmuan yang rumit. Pelayanan tertier ini dilaksanakan rumah sakit tipe A yang umumnya rumah sakit pendidikan ibukota propinsi, salah satunya adalah RSCM Jakarta.

 

RSCM

 

RSCM singkatan dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, merupakan  salah satu organ dalam struktur Dept. Kesehatan. Melalui berbagai peraturan Menteri Kesehatan, RSCM berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan untuk FKUI, sebagai rumah sakit tipe A ditambah dengan satu fungsi lagi, yaitu sebagai rujukan nasional. Makna rujukan nasional adalah mampu menyelesaikan problem kuratif dengan kesulitan tertinggi yang ada di Indonesia. Sebagai contoh adalah operasi kembar siam Yuliana Yuliani yang sukses selamat oleh tim yang dipimpin oleh Prof. Padmo Sancoyo puluhan tahun yang lalu. Saat ini kedua bayi sudah menjadi 2 remaja yang cerdas dan cantik-cantik. Selain itu secara tradisional semua model pengobatan terbaru dimulai di RSCM, misalnya transplantasi ginjal cuci darah, lalu disebar ke daerah lain.

Kejadian sehari-hari di RSCM selain tugas pokok tersebut, beban RSCM diperberat dengan mengalirnya pasien dari segala penjuru Jakarta bahkan dari seluruh Indonesia. Dapat dibayangkan setiap pagi sudah berada di RSCM ribuan pasien menunggu pelayanan. Dengan banyaknya pasien yang datang ke RSCM baik perorangan maupun rujukan, terpaksalah RSCM diberi gelar/julukan Puskesmas Raksasa.

Salah satu contoh kesulitan adalah: pernah suatu ketika RSCM akan melaksanakan sistem rujukan sesuai peraturan. Namun ongkos sosialnya terlalu tinggi. Timbul gejolak sosial yang cukup ”mengharukan”: RSCM menolak pasien, tidak berperikemanusiaan. Ya lebih baik bekerja sebagai sedia kala.

 

Pasien Miskin Terlantar

 

Fenomena pasien miskin yang tergusur dari RSCM tersebut, tidak lepas dari fungsi RSCM sebagai puskesmas raksasa dan belum terlaksananya sistem rujukan sebagaimana seharusnya. Dalam pelaksanaan fungsi kuratif, tentu saja ada kriteria dan prioritas, mana yang perlu dirawat dan mana yang  dapat berobat jalan. Saat ini prioritas perawatan adalah penyelamatan pasien, artinya pasien yang dirawat adalah mereka yang sakit yang menurut ilmu dan fasilitas yang ada, pasien dapat disembuhkan. Jadi tidak semata beratnya penyakit. Sebagai contoh, pasien stadium akhir misalnya kanker lanjut, lebih baik dirawat di rumah (home care), sebaliknya orang segar bugar yang tekanan darah tinggi sekali atau serangan asma yang belum sembuh dengan pengobatan biasa, ya harus dirawat. Selain itu perawatan diindikasikan bagi pasien yang sudah sampai giliran untuk tindakan, operasi. Saat ini daftar tunggu operasi sangatlah panjang. Hal ini tidak lepas dari fungsi RSCM sebagai rujukan nasional. Di sinilah timbulnya pasien yang suka tidur di RSCM. Tempat tidur selalu penuh terisi sepanjang tahun.

Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa fenomena pasien tergusur bukanlah problema medik, melainkan problema sosial. Pertanyaannya adalah, apakah RSCM akan ditambah bebannya untuk mengurus ”hidup” pasien rawat jalan dari daerah lain? Inilah sudut pandang yang diharapkan dalam memberi makna fenomena pasien miskin terlantar tersebut. Apakah suatu problem sosial akan dikembangkan menjadi masalah hukum bahkan masalah politik? Apakah tidak lebih baik kita berunding mencari jalan keluarnya?

 

Usul penyelesaian mendasar: Jamkesmas dan dokter Keluarga

 

Jamkesmas adalah akronim dari Jaminan Kesehatan Masyarakat, yang sistemnya baru saja dibangun. Kita semua wajib menyukseskan sistem ini. Pasien miskin yang terlantar tersebut dapat sampai ke RSCM berkat sistem ini.

Fenomena pasien miskin tersebut bila dikaji dengan seksama pada dasarnya belum bakunya pelaksanaan mekanisme rujukan dalam sistem jamkesmas. Belum ada pengaturan tentang pendampingan atau yang memandu pasien rujukan. Setiap mekanisme kerja memerlukan suatu instrumen. Di sinilah relevansi usulan saya seperti tersebut pada subjudul makalah ini, yaitu sistem jamkesmas perlu didampingi (matching) dengan sistem dokter keluarga.

 

Sistem Dokter Keluarga

 

Sistem dokter keluarga sebagai bagian struktur SKN sudah berjalan sangat bagus di negara maju. Sistem dokter keluarga selalu dikaitkan dengan sistem asuransi kesehatan baik yang resmi dari negara/seperti Jamkesmas di Indonesia, maupun yang diusahakan oleh swasta. Setiap keluarga atau orang per orang diwajibkan mengikatkan diri pada seorang dokter keluarga. Pasien tidak perlu membayar dokter karena dokter keluarga mendapat gaji dari asuransi. Kita bersyukur bahwa sudah ada satu kota, yaitu kota Bontang yang melaksanakan secara penuh dan konsekwen sistem Jamkesmas dengan didampingi sistem dokter keluarga. Kebetulan walikota Bontang seorang dokter, yaitu Dr. Andi Sofyan Hasdani, SpS. (Media Aesculupius, Mei 2008).

Dokter keluarga itulah yang membimbing, mengasuh pasien beserta keluarganya, termasuk mengirim sekaligus memandu rujukan yang diperlukan. Dokter spesialis yang merawat wajib berkomumikasi aktif dengan dokter keluarga yang merujuk. Selain itu rumah sakit harus mengacu segala prosedur yang akan dilaksanakan dengan ketentuan yang disepakati dengan asuransi (jamkesmas). Hal ini diperlukan berhubung secara filosofis selalu ada perbedaan interes (orientasi) antara kaum profesional kedokteran dengan perusahaan asuransi. Secara profesional (juga pasien) selalu menghendaki yang maksimal terbaik, terbaru, sebaliknya perusahaan asuransi selalu berorientasi pada manfaat, efisiensi dan hemat. Di sinilah peran yang sangat penting dari dokter keluarga.

 

Siapakah dokter keluarga?

 

Inilah suatu pertanyaan yang sederhana, namun menimbulkan silang pendapat bahkan benturan pemikiran yang sampai sekarang belum selesai dalam intern IDI, sekaligus fenomena yang dapat menerangkan mengapa pengembangan sistem dokter keluarga tersendat.

Ide dokter keluarga di Indonesia pertama kali dicetuskan oleh DR. Kartono Mohamad tahun 1970an, jadi hampir 40 tahun yang lalu di Makasar saat beliau menjabat Wakil Ketua Umum (President elect) IDI. Semua dokter setuju ide ini lalu dibentuk kolose dokter keluarga IDI (KDKI). Pangkal perselisihan ada pada pertanyaan: siapakah dokter keluarga? Sebagian pemikir meminta dokter keluarga setingkat spesialis di atas dokter umum. Kelompok pemikir kedua yang umumnya para spesialis menghendaki dokter keluarga adalah generalis, yaitu dokter umum dengan penambahan kompetensi bidang promotif dan preventif serta fungsinya bersifat pengasuhan dan sebagian fungsi kuratif pada penyakit yang umum. Rumusan yang diusulkan adalah dokter keluarga disebut dokter umum plus. Inilah pangkal mula susahnya sistem dokter keluarga berkembang di Indonesia.

Dengan tulisan ini semoga semua orang sadar pentingnya sistem dokter keluarga di Indonesia dalam pelaksanaan Jamkesmas. Sistem dokter keluarga dan Jamkesmas adalah kunci pelaksanaan SKN khususnya masyarakat miskin dengan demikian fenomena pasien miskin terlantar di RSCM tidak terulang lagi. Di bawah ini saya kutipkan pikiran mahasiswa FKUI yang dimuat dalam majalah Media Aesculupius (majalah yang diasuh oleh mahasiswa FKUI) No. 003/XXXVII/Mei-Juni 2008. Dokter Keluarga antara konsep dan realitas. Dapatkah Indonesia berubah?

 

Daldiyono Harjodisastro

Guru Besar FKUI

5 Komentar

Filed under global

Prinsip Dasar Dokter Ditegaskan Kembali

 

Etika Kedokteran

 

Jakarta, Kompas – Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Profesor Dr dr Daldiyono Hardjodisastro SpPD, KGEH mengingatkan siapa pun yang ingin menjadi dokter atau mereka yang sudah menjadi dokter tidaklah pantas berorientasi pada kekayaan. Prinsip dasar dokter untuk memberi ruang pada mereka yang miskin harus terus dibawa jika tidak ingin menyimpang dari filosofi dokter itu sendiri.

Hal itu ditegaskan Prof Daldiyono dalam simposium mini “Bagaimana Dokter Berpikir di Era Undang-Undang Praktik Kedokteran”, di RS Cipto Mangun kusumo, Kamis (15/6). “Harus selalu diingat bahwa dokter pintar karena jasad para gelandangan,” tutur Daldiyono yang siang itu meluncurkan bukunya yang berjudul Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja.

Meskipun masih lebih banyak dokter yang baik, tak dipungkiri banyak pula dokter yang kurang baik. Tak sedikit dokter yang hanya sekadar penulis resep. Selain itu, jumlah pasien yang banyak menjadikan dokter tidak bisa maksimal dalam memeriksa pasien.

Daldiyono mengakui variasi kualitas dokter di Indonesia cukup tinggi. Hal itu terjadi antara lain karena belum standarnya lulusan di banyak fakultas kedokteran di Indonesia.

Dari sisi etika, hingga kini juga belum ada pengajaran etika kedokteran yang terstruktur dan rapi. “Mahasiswa kedokteran adalah anak-anak muda yang pintar-pintar. Anak pintar-pintar ini kalau salah mengasuh akan sayang sekali,” kata Daldiyono. Maka, terus usahakan jangan sampai ada perbedaan besar kualitas dan diagnosis dokter di daerah A dengan dokter di daerah B.

Daldiyono mengakui, ada masa di mana dokter Indonesia sangat terlena dengan profesinya yang dihormati dan laris tanpa sadar kualitasnya melemah.

Hal itu menjadikan pasien-pasien Indonesia banyak yang lari ke luar negeri.

Apalagi terbitnya Undang Undang Nomor 29/2004 tentang Praktik Kedokteran dan Kedokteran Gigi menjadikan pasien lebih leluasa menentukan sikap. Pasien juga bisa menentukan opini lain tentang penyakitnya. Ini justru menjadi pemicu prestasi profesional kedokteran.

Mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran UI, dr Tri Juli Edi Tarigan, mengatakan jumlah pasien yang membeludak yang berakibat pada tidak maksimalnya dokter melakukan pemeriksaan terjadi karena sistem pembayaran jasa dokter yang masih liberal.

“Sangat sulit bagi dokter membatasi jumlah pasien jika dokter masih menerima langsung pembayaran pasien,” kata Tri.

Semestinya pembayaran dilakukan dalam bentuk asuransi kesehatan oleh pihak ketiga yang dalam hal ini ditangani oleh negara. (WSI)

 

artikel diambil dari sini

4 Komentar

Filed under global

Dokter yang Tak Hanya Menulis Resep

Friday, 22 September 2006

memang kebanyakan profesor punya banyak sikap unik,tapi keunikan profesor yg satu ini lumayan bisa dijadikan masukan fren!

Dokter yang Tak Hanya Menulis Resep

Wajah Profesor Dr dr Daldiyono Harjodisastro SpPD KGEH tampak sumringah pada Kamis (15/6) menjelang siang di ruang kuliah Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Pada hari itu, pria kelahiran Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tepatnya tidak jauh dari lereng Merapi itu, meluncurkan buku pertamanya berjudul Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja, yang diterbitkan PT  Gramedia Pustaka Utama. Ingin bahagia. Itulah obsesi Daldiyono. Untuk meraih itu, dia pun tidak mau “diperbudak” pekerjaan, karena di antara kesibukannya mengobati pasien-pasien, Daldiyono memberi porsi untuk membaca, menulis buku, dan bermain drama. Tentu, kebahagiaan itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Menurutnya, seorang dokter haruslah bekerja berdasarkan esensi etika, yaitu kasih sayang dan akhlak mulia. Karena, profesi dokter, amal dan saleh. Dokter adalah pelayan bagi pasien, sehingga ketika bekerja seorang dokter hendaknya mengaplikasikan prinsip etika.

Membatasi Pasien Mungkin tidak banyak dokter yang masih menyempatkan diri menulis buku atau novel di antara kesibukan sebagai dokter. Sudah menjadi pandangan umum di kota besar, dokter yang telah meraih gelar profesor memiliki banyak pasien. Jadi, tidak mengherankan seorang profesor berpraktik sampai dini hari. Namun, bagi Daldiyono, waktu sepanjang 24 jam tidaklah dihabiskan dengan mengurus pasien saja.

“Saya selalu membatasi jumlah pasien. Sehari cukup 20 pasien. Bila saya memiliki 100 pasien sehari tetapi
melayani 20 pasien saja, maka teman sejawat saya yang lain bisa kebagian pasien. Selain itu, saya memiliki
cukup waktu memeriksa setiap pasien saya. Butuh waktu setengah jam untuk memeriksa seorang pasien,” ujarnya. Menuangkan ide dalam tulisan sudah dilakukannya saat mahasiswa di FKUI, sebagai wartawan pada majalah kedokteran tahun 1962-1966. Untuk dapat menulis, menurutnya, harus ada niat. Melalui tulisan, Daldiyono pun menuangkan aspirasi dan ilmu dengan harapan orang lain mengetahui pemikirannya. Selain itu, orang yang membaca juga memperoleh manfaat. Prinsipnya, melalui tulisan seseorang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga orang lain. Sama dengan wartawan, menulis untuk kepentingan masyarakat. Terhadap apa yang diperoleh dan dijalaninya selama ini, dia bersyukur kepada Tuhan. Dia mengaku bukanlah orang yang memiliki uang, sehingga akhir pekan Sabtu dan Minggu dihabiskannya di rumah dengan menulis. Hari libur pun diisi dengan menulis dan membaca. Bahkan, saat menunggu keberangkatan pesawat di bandara, Daldiyono juga menulis. Beberapa karya tulisnya yang akan diluncurkan adalah “Pasien Pintar dan Dokter Bijak”, “Menjaga Kesehatan Mencegah Penyakit Berkembang”.

Dengan diluncurkan buku Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja diharapkan dokter Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri. Menurut Daldiyono, yang meraih gelar doktor ilmu kedokteran pada 1995 dengan disertasi berjudul Tukak Stres pada Penderita Stroke itu, masih ada kekhawatiran masyarakat terhadap dokter. Terbukti sebagian masyarakat masih berobat ke luar negeri. “Tidak mungkin orang berobat ke luar negeri kalau dokter di sini sudah bagus. Kita harus jujur, kita kurang bagus. Kekurangannya terletak pada komunikasi pada hubungan dokter dan pasien,” tuturnya.

Membuka Diri Dokter, katanya, harus membuka diri dan pasien diberi kebebasan (otonomi), misalnya dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Bukan dokter yang mengambil keputusan untuk seorang pasien. Justru, katanya, di dalam undang-undang praktik kedokteran dianjurkan masyarakat mencari pendapat (second opinion) dari dokter lain. Di sisi lain, pasien masih berharap berlebihan terhadap dokter. Misalnya, semua pasien harus sembuh. Daldiyono yang memperoleh gelar profesor tahun 1997, berpendapat agar seorang dokter benar-benar menjadi dokter, harus memiliki keterampilan klinik, keterampilan berpikir, bekerja dengan benar, dan bisa berkomunikasi secara baik dengan pasien. Di FKUI, komunikasi interpersonal diajarkan sejak 1986. Selain itu, dia mengingatkan profesi dokter bukanlah suatu cara untuk menjadi kaya. Anggapan di masyarakat profesi dokter adalah lahan subur untuk menumpuk kekayaan adalah pemahaman yang salah. Bila seseorang mengharapkan kaya dari profesi dokter, maka dokter itu pada akhirnya akan bosan.

“Dokter itu mudah sekali menjadi kaya kalau dokter jelek. Dokter jelek itu menipu pasien. Misalnya mengatakan ‘Anda sakit ini, mestinya begini…begitu…’ kepada pasien. Padahal tidak benar. Jadilah seorang dokter yang baik dan membahagiakan pasien. Kalau mau jadi dokter jangan ingin kaya, tetapi cukup,” sarannya. [Pembaruan/Nancy Nainggolan]

 

artikel diambil dari sini

15 Komentar

Filed under global

Kentut Pertanda Sehat

by : Grathia Pitaloka
Sudahkah Anda kentut minimal 16 kali dalam sehari?
Sebagian besar masyarakat Indonesia sering memandang remeh perihal buang angin atau yang sering disebut kentut. “Dentuman” ini hanya dianggap sebagai sebuah siklus metabolisme tubuh yang tak jarang malah membuat malu. Sehingga jarang temui orang yang ingin mengkajinya secara ilmiah.Walaupun “sepele” sebenarnya terbentuknya kentut didalam tubuh melalui sebuah proses yang cukup panjang. Dari kacamata medis, kentut sebenarnya adalah gas dalam jumlah berlebih dari dalam tubuh yang dikeluarkan melalui anus.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli, volume kentut yang diproduksi manusia normal bervariasi antara 400 sampai 1600 milileter per hari. Sedang frekuensi yang masih dianggap normal sekitar 14 kali sehari.

DR.Dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, MEpid, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta mengatakan, ada beberapa faktor yang disebut sebagai faktor resiko yang menentukkan volume, frekuensi dan komposisi kentut. “Pembentukkan gas dalam tubuh ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya usia seseorang, adanya tekanan jiwa, obat-obatan tertentu seperti antibiotika, dan pola makan seseorang,” kata Siti kepada Jurnal Nasional, Jumat (14/3).

Kentut terdiri dari lima komponen gas yaitu, nitrogen, oksigen, hidrogen, methane, dan karbondioksida. Namun kentut yang menimbulkan bau disusun oleh komponen yang berbeda yaitu skatol, indol, hidrogen, sulfida, amines dan asam-asam lemak rantai pendek. Gas-gas ini walaupun terdapat dalam jumlah kecil, dapat menimbulkan bau yang menusuk hidung. Bau yang menusuk ini akan lebih dipertajam lagi kalau makanan yang dikonsumsi berbau tajam seperti pete, jengkol dan sebagainya.

Perempuan kelahiran Bandung, 15 Oktober 1961 ini mengatakan, pola makan adalah faktor dominan yang menentukkan pembentukkan gas dalam tubuh. “Makanan yang pedas, asam dapat meransang pembentukkan gas dalam tubuh,” ujar Siti.

Dihubungi secara terpisah, Prof. Dr.dr Daldiyono Sp.PD., KGEH, spesialis gastroenterologi dari RS St. Carolus, Jakarta menjelaskan, di dalam usus besar (colon) manusia terdapat banyak kuman. Nah, kata Daldiyono, agar dapat bertahan hidup, kuman-kuman tersebut perlu makan.

Kemudian, lanjut pria yang telah 40 tahun mengabdi sebagai dokter itu, kuman-kuman itu memanfaatkan sisa-sisa makanan yang ada di dalam usus besar ini sebagai makanan untuknya. “Lalu, terjadilah fermentasi dan sebagai akibatnya terbentuklah sejumlah gas. Oleh sebab itu agama menganjurkan untuk tidak makan secara berlebih,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran UI tahun 1966 ini.

Penulis buku Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja dan novel Lika-liku Kehidupan ini menegaskan, semakin banyak makanan mengandung bahan yang tidak dapat dicerna usus, maka semakin banyak terjadi fermentasi oleh bakteri dan produksi gas meningkat.

Makanan yang sulit dicerna oleh usus manusia adalah selulosa, stakiosa dan rafinosa. Selulosa merupakan dinding sel tumbuh-tumbuhan, sementara stakiosa dan rafiosa, banyak terdapat pada kacang merah. Selain itu, ada sebagian orang tubuhnya tidak mampu untuk mencerna berbagai macam produk-produk susu seperti keju, krim asam dan susu kental. “Walaupun demikian sayur dan buah memiliki vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh,” tutur Daldiyono.

Daldiyono mengatakan, selain melalui mekanisme fermentasi gas yang masuk kedalam tubuh juga bisa berasal dari udara luar. Udara itu biasanya masuk karena kebiasaan mengunyah permen karet, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat dan merokok.

Bentuk mekanisme lain masuknya gas kedalam tubuh yaitu merembes melalui aliran darah (difusi). Namun mekanisme ini tidak umum dan hanya bersifat kasuistis misalnya pada pendaki gunung dan para astronot.

Selain faktor fisiologis dan lingkungan, ternyata faktor psikologis seperti tekanan jiwa juga berperan menimbulkan berlebihnya produksi gas di dalam usus. Siti memaparkan, jika seseorang yang dalam keadaan tertekan maka produksi asam lambung akan meningkat.

Selain itu, ketika orang dalam keadaan tertekan waktu yang dibutuhkan saluran cerna untuk melewatkan makanan dari mulut sampai anus lebih cepat. Akibatnya akan lebih banyak makanan yang tidak dicerna masuk ke dalam usus besar sebagai bahan untuk fermentasi bakteri. Bahkan tekanan jiwa akan menyebabkan tertelannya udara secara berlebihan (aerophagia). “Biasanya kalau tertekannya berupa sedih maka dia akan merasa kembung, kalau dia merasa khawatir maka akan merasa mual,” kata Daldiyono.

Meski terkesan sederhana, peningkatan produksi gas dalam tubuh juga dapat mengindikasikan penyakit serius seperti gangguan penyerapan makanan (sindroma malabsorpsi), diare kronik yang disebabkan oleh parasit jenis tertentu (giardiasis), tukak lambung (ulkus peptikum), dan batu kandung empedu (kolelitiasis).

Grathia Pitaloka

 

artikel diambil dari sini

3 Komentar

Filed under global

Separuh Hati bagi si Buah Hati

by : Nunik Triana
Kini orang yang hidup pun dapat memberikan separuh hatinya bagi penderita gagal hati kronik atau dikenal dengan prosedur Living Donor Liver Transplantation (LDLT).
HARAPAN hidup bagi mereka yang Anda sayangi yang kebetulan menderita gagal hati kronik dan membutuhkan transplantasi atau pencangkokan kini semakin terbuka lebar. Jika dahulu hati cangkokan hanya dapat dilakukan dari pendonor yang meninggal, kini mereka yang hidup pun dapat memberikan separuh hatinya bagi penderita atau dikenal dengan prosedur Living Donor Liver Transplantation (LDLT). Tingkat keberhasilan transplantasi yang terutama disebabkan oleh penyakit hati hepatitis C ini cukup tinggi, yaitu 75 hingga 85 persen pada tahun pertama. Bila dapat bertahan di tahun tersebut, setidaknya penderita dapat hidup normal hingga ajal menjemput.Prosedur LDLT membawa banyak keuntungan. Salah satunya adalah mengurangi waktu tunggu. Sekali donor hidup sudah teridentifikasi, pembedahan dapat dilakukan dalam hitungan jam atau hari, tergantung pada urgensi penerima.

Pengurangan waktu tunggu ini secara otomatis juga akan menyelamatkan pasien yang harus menunggu lama dengan cara transplantasi konvensional. LDLT juga mengizinkan pasien dan dokter memilih waktu transplantasi. Sementara dengan transplantasi konvensional, pembedahan baru bisa dilakukan setelah identifikasi donor dilakukan selama 12 jam.

Konsultan Gastroenterolog-Hepatologi dan Guru Besar Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Daldiyono menyatakan, transplantasi hati dari orang yang masih hidup lebih baik dibanding dari organ yang diambil dari orang yang telah atau akan meninggal. Ia menjelaskan, hati manusia menjadi dua yaitu kanan dan kiri. Dalam proses pencangkokannya, hati pendonor-yang kiri atau yang kanan– akan diambil untuk kemudian diberikan kepada penderita.

Ia menyarankan agar hati sebelah kiri yang lebih baik didonorkan karena lebih kecil. Setelah hati dicangkokkan, maka secara alamiah hati tersebut akan beregenerasi untuk kemudian membentuk sel baru hingga hati sebelahnya terbentuk secara sempurna.

Namun, menurutnya, tidak semua orang yang menderita kerusakan hati harus menjalani transplantasi. “Hanya mereka yang memiliki hati tinggal 20 persen dan diprediksi akan rusak terus yang harus menjalani transplantasi,” katanya. Sedangkan jika pasien yang hatinya rusak sepertiga, atau setengahnya dan diprediksi dapat membaik maka tidak perlu menjalani prosedur transplantasi.

Alasannya, menurut Daldiyono, jika terobati dengan baik maka hati secara alamiah akan sembuh kembali melalui proses regenerasi. “Itulah keistimewaan hati kita, mampu meregenerasi diri menjadi utuh kembali. Makanya, pasien itu harus positif menjalani pengobatan, jika hatinya tinggal sepertiga ia masih memiliki kemungkinana hidup, bahkan sampai tua,” katanya.

Bagaimana sesorang bisa menjalani hidupnya dengan separuh hati? Menurut Daldiyono mereka tetap dapat hidup secara baik dan normal seperti tidak terjadi apa pun pada hatinya. “Tidak ada yang berubah karena hati akan tumbuh kembali,” tuturnya. Ia mengatakan, setidaknya dibutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun, untuk hati dapat tumbuh dan berfungsi seperti semula.

Namun, sama halnya dengan prosedur transplantasi organ tubuh lainnya, pencangkokan hati dari jaringan donor ke jaringan resipien (penerima) harus memiliki kesesuaian semaksimal mungkin. Sebabnya, pencangkokan jaringan dan organ merupakan suatu proses yang rumit, di mana dalam keadaan normal sistem kekebalan akan menyerang dan menghancurkan jaringan asing.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat dilakukan pencangkokan yaitu pencarian donor yang sesuai, kemungkinan timbulnya risiko akibat pembedahan, pemakaian obat-obat immunosupresan yang poten, kemungkinan terjadinya penolakan oleh tubuh resipien, serta kemungkinan terjadinya komplikasi atau kematian.

Sekelompok antigen yang disebut human leukocyte antigen (hla) yaitu antigen yang paling penting pada pencangkokan jaringan lain, merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Semakin sesuai antigen hla-nya, maka kemungkinan besar pencangkokan akan berhasil.

Oleh karena itu, sebelum suatu organ dicangkokkan, jaringan dari donor dan resipien diperiksa jenis hla-nya. Dalam hal ini hanya kembar identik yang memiliki antigen hla yang benar-benar sama. Sedangkan pada orang tua dan sebagian besar saudara kandung, beberapa di antaranya memiliki antigen yang sama. Di mana satu diantara empat pasang saudara kandung biasanya memiliki hal tersebut.

Namun, kabar terakhir, seperti dikutip dari New England Journal of Medicine dan dilaporkan oleh abcnews, mereka yang ingin mendonorkan separuh hatinya kepada orang lain sebaiknya telah mempertimbangkan masak-masak keputusan ini. Pasalnya, risiko kematian donor hidup ternyata lebih tinggi dari perkiraan semula. Hal ini seperti yang terjadi pada seorang donor yang meninggal bulan Januari tahun 2002 di salah satu pusat transplantasi hati terbesar di New York. Sekitar 10 persen dari semua transplantasi hati yang berlangsung pada tahun 2001 di Amerika Serikat memang dilakukan dengan menggunakan donor hidup.

Hingga kini transplantasi hati dari donor hidup di Indonesia memang masih belum banyak dilakukan. Menurut Daldiyono, baru Rumah Sakit Dr Karyadi Semarang saja yang melakukan prosedur ini. “Sebenarnya dari 15 tahun lalu sudah mulai dicanangkan program ini, tetapi masih terkendala oleh biaya yang lumayan tinggi dan kemungkinan sulit terjangkau,” katanya. Kata Daldiyono, setidaknya untuk melakukan transplantasi jenis ini diperlukan biaya Rp500 juta.

Meskipun begitu, ia menambahkan, ke depan dunia kedokteran Indonesia kemungkinan akan menggunakan stem cell atau sel induk sebagai pengganti jalur transplantasi. Induk sel, khususnya untuk hati, bisa diambil dari sum-sum tulang belakang penderita untuk kemudian dirawat hingga membentuk bakal sel hati, yang kemudian dimasukkan ke hati penderita. “Jadi, pada masa depan kemungkinan tidak ada lagi transplantasi hati,” katanya.

 

 Artikel diambil dari sini

6 Komentar

Filed under global

Hubungan Pasien-Dokter, Komunikasi Menjadi Kunci

 

Mengapa banyak tuduhan bahwa dokter melakukan malapraktik? Juga fenomena pasien berbondong- bondong berobat ke luar negeri? Apakah dokter Indonesia kurang mampu memberikan kepuasan serta rasa aman kepada pasien?

Jawabnya, karena komunikasi belum menjadi urusan utama dokter Indonesia. Di sisi lain pasien belum sadar hak dan kewajibannya sebagai pasien. Hal itu mendorong guru besar emeritus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Daldiyono Hardjodisastro menulis buku Pasien Pintar & Dokter Bijak yang dipaparkan dalam ceramah di FKUI/RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, Selasa (29/5).

Menurut Daldiyono, untuk mendapat hasil maksimal dari pertemuan dengan dokter, pasien harus mempersiapkan diri. Misalnya mengenakan pakaian yang memudahkan dokter melakukan pemeriksaan. Selain itu pasien juga perlu mencatat keluhan yang hendak disampaikan ke dokter secara lengkap, kapan dirasakan, upaya yang sudah dilakukan untuk mengurangi rasa sakit. Beritahukan pula penyakit yang pernah atau sedang diderita, obat yang sedang diminum serta jika ada alergi.

Dari tanya jawab soal keluhan dan pemeriksaan fisik pasien, dokter akan menegakkan diagnosis kemudian memberikan terapi termasuk resep obat.

Pasien berhak mendapatkan informasi yang jelas mengenai hasil pemeriksaan, menanyakan bila ada yang belum jelas, mengambil keputusan untuk menerima atau menolak saran dokter tentang terapi yang akan diberikan. Jika pasien tidak menerima keputusan dokter, ia berhak mencari pendapat kedua (second opinion) dari dokter lain.

Pasien yang pintar perlu bertanya dan mengetahui obat apa yang diresepkan serta manfaatnya. Jika kondisi keuangan tidak memungkinkan, pasien perlu meminta obat generik.

Hilangkan sifat ingin cepat sembuh. Pengobatan perlu waktu, kesabaran, dan ketekunan. “Banyak dokter terbawa kemauan pasien yang ingin cepat sembuh, sehingga dokter melakukan pelbagai jenis pemeriksaan yang belum tentu diperlukan atau memberi obat berlebihan,” papar konsultan gastroenterologi-hepatologi itu.

Sebaliknya, dokter yang bijak adalah yang mampu berkomunikasi secara efektif dengan pasien. Mau mendengarkan keluhan pasien, menjawab pertanyaan dan menjelaskan situasi pasien, memberi nasihat cukup tidak sekadar memberi resep sehingga pasien merasa puas.

Kemampuan berkomunikasi merupakan inti dari pekerjaan dokter. Kepandaian sebenarnya nomor dua saja. Pasalnya, 60 persen pasien sebenarnya tidak sakit, tetapi mengalami kelainan fungsional. Hanya 40 persen yang benar-benar sakit, itu pun 20 persen sembuh sendiri. “Pengobatan atau proses asuhan medik adalah usaha bersama,” katanya.

Bagaimana menghadapi dokter yang tidak komunikatif? Tinggalkan saja, pindah dokter, saran Daldiyono.

Sumber: Kompas
Penulis: Atk

 

artikel diambil dari sini

4 Komentar

Filed under buku

Kurang Serat Bisa Kanker Usus

Sulit buang air besar (BAB) bukan persoalan sederhana. Bila dibiarkan, keadaan ini bisa mengakibatkan masalah besar. Selain alat pencernaan bisa rusak, kanker usus pun sangat mungkin terjadi.

Berdasarkan catatan tahun 2001, ditemukan indikasi adanya kanker usus pada 6,5 persen dari seluruh pasien yang diperiksa saluran pencernaan bagian bawahnya, di RS Kanker Dharmais, Jakarta. DIi RSUD Banjarmasin, 32 persen dari 34 kasus perdarahan lewat anus, terdeteksi mengidap kanker usus.

Sementara itu, di RSCM Jakarta, sekitar lima tahun lalu ditemukan 224 kasus kanker usus. Lalu, pada tahun 2001, persentasenya meningkat 50 persen. Semua kasus tersebut diawali dengan susah BAB.

Menurut pakar gizi dari Universitas Indonesia, Dr. Walujo Soerjodibroto, Sp.G,Ph.D, sulitnya buang air besar atau yang dikenal dengan sembelit disebabkan oleh banyak hal. Kurang minum, kurang makanan berserat, tidak membiasakan diri BAB setiap hari, usia semakin tua, kurangnya aktivitas fisik, depresi atau stres, kehamilan, kondisi sakit, adalah faktor-faktor penyebab sembelit.

Penelitian European prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) pada Maret 2003 mengungkap, peningkatan konsumsi serat pada masyarakat Eropa ternyata dapat mengurangi risiko pembentukan kanker usus hingga 40 persen. Penelitian ini sekaligus membantah keraguan beberapa ahli, tentang pentingnya serat sebagai zat pelindung tahap awal terhadap kanker usus. Penelitian selama hampir lima tahun ini melibatkan 10 negara, 519,978 orang responden yang berusia 25-70 tahun.

Berhenti di Usus
Prof. DR.Dr. Daldiyono Sp.PD., KGEH, spesialis gastroenterologi dari RS St. Carolus, Jakarta, menyebutkan bahwa saat orang makan sesuatu, sebagian makanan akan diserap tubuh. Sisa-sisa makanan yang tidak diserap tubuh akan dibuang dalam bentuk kotoran (feses). Sebelum dibuang, sisa makanan itu akan berhenti di usus besar, menunggu sisa makanan lain hingga terbentuk badan kotoran (bulk).

Jika sudah tiba saatnya, usus akan mengurutnya (gerak peristaltik) dari atas ke bawah, hingga kotoran keluar dari anus. Saat proses mengurut berlangsung, sisa-sisa makanan yang mengandung serat akan membantu memperlancar jalannya proses pembuangan, sehingga saat BAB tidak bermasalah.

Masalah muncul bila di dalam usus kurang tersedia serat, sehingga proses pembentukan bulk agak lama. Pada orang yang jarang mengonsumsi serat, sisa-sisa makanan yang tidak terserap tubuh akan berhenti dalam usus. Akibatnya, orang tersebut akan merasa sakit dan sulit buang air besar.

“Sisa-sisa tersebut akan berhenti cukup lama sampai terbentuk bulk, sehingga usus bisa membawanya ke bawah. Jika sama sekali tidak ada atau hampir tidak ada serat, tidak akan terbentuk bulk,” kata Dr. Waluyo. Oleh karena itu, kalau kita mendengar ada orang tidak bisa BAB selama tiga hari, bisa jadi ada gangguan dalam ususnya.

Pada konstipasi kronis, tinja biasanya sangat keras dan tak bisa lagi dibuang secara normal. Jangan abaikan hal ini, segera cari bantuan medis. Diagnosis dokter akan ditentukan berdasarkan sejarah kesehatan Anda, juga pemeriksaan fisik.

Dokter harus memastikan tidak ada kemacetan dalam usus, mencermati kondisi endokrin-hipotiroid, juga kondisi elektrolit tubuh seperti kelebihan kalsium darah. Dokter akan menanyakan, apakah Anda sedang menjalani pengobatan. Sebab, bisa jadi hal itu penyebab konstipasi.

“Prosedur yang dilakukan antara lain analisis tinja, cek lapisan barium yang melapisi usus, proctosigmoidoscopy atau alat peneropong ujung usus besar dan kolon sigmoid, dan kolonoskopi atau alat teropong usus,” papar Prof. Daldiyono. Meski secara umum sembelit tak mengakibatkan efek serius komplikasinya bisa mengganggu seperti wasir, lecet, dan pendarahan pada anus.

Bisa jadi dokter akan merekomendasikan obat-obatan seperti mineral oil, atau docusate sodium (colase. dialose) yang berfungsi melunakkan kotoran. Dengan begitu, akan mempermudah pembuangan feses melalui usus. Namun, jangan gunakan obat ini terus-menerus karena akan menyebabkan masalah baru.

Mineral oil akan mengganggu penyerapan vitamin dan dapat menyebabkan radang paru-paru, jika secara tak sengaja. terhirup ke dalam paru-paru. Jangan minum mineral oil dengan posisi badan sedang berbaring, supaya tidak terhirup.

Cangkang udang
Mengubah gaya hidup merupakan cara terbaik dan termurah untuk mengatasi konstipasi. Usahakan mengonsumsi serat alami seperti buah, sayuran, dan biji-bijian, agar tinja lebih lunak. Sangat bagus bila Anda bisa menghitung asupan gizi makanan tersebut. Beberapa jenis sayur dan buah membantu membebaskan Anda dari konstipasi, tapi bisa memproduksi banyak gas.

Dr. Waluyo menyarankan, kita juga bisa memanfaatkan makanan lain yang tidak bisa dicerna serta memiliki sifat seperti serat, misalnya cangkang udang atau rumpur laut. “Serat adalah hidrat arang yang tidak larut. Cangkang udang atau rumpur laut adalah jenis makanan yang tidak bisa dicerna. Cangkang itu menyebabkan tertinggal di usus sehingga bisa menjadi serat,” paparnya. Jadi, kalau makan udang, sebaiknya makan bersama cangkangnya.

Mengenai suplemen pengganti serat yang banyak di iklankan, Dr. Waluyo menilai boleh saja dikonsumsi sebagai pengganti serat dalam tubuh. Yang jelas, serat asli selalu lebih baik dibandingkan yang buatan. “Tapi, kalau memang tidak ada asupan serat, yang kurang baik pun bisa lebih baik daripada tidak sama sekali,” ujarnya.

Konsultasikan pada dokter bila ingin menggunakan obat pencuci perut. Jangan minum obat pencahar tepat sebelum tidur. Selain bakal menguras seluruh isi usus, termasuk vitamin yang semestinya diserap tubuh, juga bisa memicu radang paru yang serius jika terhirup ke dalam paru-paru.

Jika Anda hamil, lebih baik tidak menggunakan obat pencuci perut dan suplemen serat, kecuali diizinkan dokter. Berenang dan jalan kaki adalah pilihan olahraga terbaik untuk Anda. Jika ingin mengonsumsi suplemen zat besi untuk kehamilan, mintalah dokter mengurangi dosisnya. Zat besi dapat mengakibatkan sembelit bagi sebagian orang.

Karena itu mulailah dari sekarang mengkonsumsi banyak makanan berserat, untuk menghindari sembelit.
(idionline)

 

artikel diambil dari [sini]

38 Komentar

Filed under global