Hubungan Pasien-Dokter, Komunikasi Menjadi Kunci

 

Mengapa banyak tuduhan bahwa dokter melakukan malapraktik? Juga fenomena pasien berbondong- bondong berobat ke luar negeri? Apakah dokter Indonesia kurang mampu memberikan kepuasan serta rasa aman kepada pasien?

Jawabnya, karena komunikasi belum menjadi urusan utama dokter Indonesia. Di sisi lain pasien belum sadar hak dan kewajibannya sebagai pasien. Hal itu mendorong guru besar emeritus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Daldiyono Hardjodisastro menulis buku Pasien Pintar & Dokter Bijak yang dipaparkan dalam ceramah di FKUI/RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, Selasa (29/5).

Menurut Daldiyono, untuk mendapat hasil maksimal dari pertemuan dengan dokter, pasien harus mempersiapkan diri. Misalnya mengenakan pakaian yang memudahkan dokter melakukan pemeriksaan. Selain itu pasien juga perlu mencatat keluhan yang hendak disampaikan ke dokter secara lengkap, kapan dirasakan, upaya yang sudah dilakukan untuk mengurangi rasa sakit. Beritahukan pula penyakit yang pernah atau sedang diderita, obat yang sedang diminum serta jika ada alergi.

Dari tanya jawab soal keluhan dan pemeriksaan fisik pasien, dokter akan menegakkan diagnosis kemudian memberikan terapi termasuk resep obat.

Pasien berhak mendapatkan informasi yang jelas mengenai hasil pemeriksaan, menanyakan bila ada yang belum jelas, mengambil keputusan untuk menerima atau menolak saran dokter tentang terapi yang akan diberikan. Jika pasien tidak menerima keputusan dokter, ia berhak mencari pendapat kedua (second opinion) dari dokter lain.

Pasien yang pintar perlu bertanya dan mengetahui obat apa yang diresepkan serta manfaatnya. Jika kondisi keuangan tidak memungkinkan, pasien perlu meminta obat generik.

Hilangkan sifat ingin cepat sembuh. Pengobatan perlu waktu, kesabaran, dan ketekunan. “Banyak dokter terbawa kemauan pasien yang ingin cepat sembuh, sehingga dokter melakukan pelbagai jenis pemeriksaan yang belum tentu diperlukan atau memberi obat berlebihan,” papar konsultan gastroenterologi-hepatologi itu.

Sebaliknya, dokter yang bijak adalah yang mampu berkomunikasi secara efektif dengan pasien. Mau mendengarkan keluhan pasien, menjawab pertanyaan dan menjelaskan situasi pasien, memberi nasihat cukup tidak sekadar memberi resep sehingga pasien merasa puas.

Kemampuan berkomunikasi merupakan inti dari pekerjaan dokter. Kepandaian sebenarnya nomor dua saja. Pasalnya, 60 persen pasien sebenarnya tidak sakit, tetapi mengalami kelainan fungsional. Hanya 40 persen yang benar-benar sakit, itu pun 20 persen sembuh sendiri. “Pengobatan atau proses asuhan medik adalah usaha bersama,” katanya.

Bagaimana menghadapi dokter yang tidak komunikatif? Tinggalkan saja, pindah dokter, saran Daldiyono.

Sumber: Kompas
Penulis: Atk

 

artikel diambil dari sini

4 Komentar

Filed under buku

4 responses to “Hubungan Pasien-Dokter, Komunikasi Menjadi Kunci

  1. risky yudha putranto

    Dear Pak Prof..

    Pak, saya mahasiswa pasca sarjana univ. mercu buana. Saya ada rencana ingin membuat tesis mengenai komunikasi kesehatan. Saya sangat tertarik dengan fenomena ini. Dan hal ini saya pertanyakan jauh sebelum saya ingin membuat tesis ini. Tapi saya telusuri mengenai buku buku kedokteran tidak ada pembelajaran komunikasi sama sekali di fakultasnya. Bahkan di toko buku tidak ada. Di perpustakaan UI tidak ada. Sampai akhirnya saya membeli buku dokter lewat bukabuku.com (mudah-mudahan sampai hari ini).
    Saya ingin sekali bertatap muka dengan Bapak. Bukan sekedar tesis..tapi saya melihat sepertinya hanya Bapak yang berjuang mengenai hal ini. Dan saya berharap saya bisa ikut membantu perjuangan Bapak, melalui tulisan ataupun apapun yang saya bisa.
    Semoga Bapak bisa mempertimbangkan permintaan saya.

    Hormat saya
    Risky Yudha Putranto

  2. Sdr. Risky,

    Bagus, saya gembira. Baca buku saya, Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja. Di situ saya bahas panjang lebar.

    salam,

  3. saya dalah Mahasiswi Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjary di Banjarmasin jurusan Kesehatan Masyarakat. saya sangat tertarik sekali dengan apa yang bapak sampaikan mengenai komunikasi kesehatan. saya ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai itu. saya sangat inngin mengerti lebih jauh apa itu komunikasi kesehatan.

    hormat saya
    Reni Yati.

  4. assalamualaikum prof, saya harayadi mahasiswa kesma unand mau nyusun tesis, ada tips nya prof ? saya dinas di dinas pemberdayaan perempuan dan KB jadi analisa kebijakan , kualitatif bisa prof? tolong dibantu , trims
    prof semoga allah membalas amal ibadahnya amin,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s