Filosofi dalam bidang Gastroenterologi

1. Pendahuluan

Barangkali judul tersebut menimbulkan tanda tanya. Mengapa kita bicara filsafat yang menyangkut bidang Gastroenterologi. Ada berbagai kalimat yang perlu diperkenalkan di sini :

“Jangan merasa mahir tanpa mendalami teori.”

You cannot be a master without theory.”

“Tak mungkin mendalami teori tanpa mengenal falsafahnya.”

No understanding theory without philosophy.”

 

2. Apa yang disebut filsafat?

Kita dapat memberi makna filsafat dari berbagai sudut pandang.

2a. Dari sudut arti kata:

Filsafat atau falsafah berasal dari kata philo = cinta dan sophia = kebijaksanaan. Jadi secara harafiah filsafat bermakna cinta kebijaksanaan.

2b. Dari sudut pandang definisi yang disepakati. Banyak usulan tentang definisi filsafat. Yang banyak disepakati adalah sebagai berikut:

Filsafat adalah ilmu yang mempelajari sesuatu yang ada dan yang mungkin ada sedalam-dalamnya. Caranya dengan bertanya terus menerus.

Adalagi usulan definisi

Filsafat adalah:

Ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang berusaha mengetahui, kemudian menerangkan kemudian dituliskan tentang segala sesuatu yang ada atau yang mungkin ada secara mendalam sejauh dia mau dan mampu.

Singkatnya filsafat : ilmu tentang pendapat orang yang dituliskan.

Sistematika filsafat: suatu sistematika adlaah suatu model penulisan sesuatu bidang ilmu dengan membagi menjadi bagian-bagiannya. Banyak cara dalam melakukan sistematika suatu bidang ilmu tergantung sudut pandang atau instrument pembagi. Sebagai contoh adalah membagi berdasarkan daerah asal-usulnya.

Sebagai ilustrasi adalah model-model filsafat berdasarkan patokan diciptakannya huruf. Saat ini ada 4 macam huruf yang hidup.

Huruf Latin = Filsafat Yunani à Eropa, liberalisme, kapitalisme, materialisme, komunisme dengan tokoh utama Hipokrates, Sokrates, Plato, Aristoteles, Karl Marx, dll.

Huruf China = Filsafat China dengan tokoh utama Lao Tze dan Kong Hu Chu.

Huruf India = Filsafat India dengan tokoh Rsi Gotama, Rsi Kapila, Rsi Patanjali, Rsi Badarayana, Sidharta Gautama à agama Hindu dan Budha.

Huruf Arab = Filsafat Arab atau Timur Tengah dengan tokoh Ibrahim, Yesaya, Yesus, Nabi Muhamad SAW, kemudian menjadi agama Yahudi, Kristen dan Islam.

Pembagian lain menunjuk pada “Apa” yang dipelajari. Contohnya:

Mempelajari Tuhan –> Theologi

Mempelajari benda-benda –> Ontologi

Mempelajari peristiwa –> Fenomenalogi

Mempelajari perilaku –> Etika

Mempelajari ilmu –> Epistemologi

Yang bersangkutan langsung dengan Gastroenterologi adalah epistemologi dan etika.

Epistemologi

Epistemologi di Indonesia biasa diberi makna filsafat ilmu pengetahuan, adalah cabang filsafat yang bersangkutan dengan asal-usul, ruang lingkup, guna, serta pengembangan pikiran yang kemudian menjadi cabang ilmu.

Epistemologi dalam bidang Gastroenterologi

Epistemologi selalu mulai dengan definisi. Jadi kita harus berusaha membuat definisi Gastroenterologi. Di sini biasanya timbul keributan atau ketidaksesuaian.

Apa yang disebut Gastroenterologi?

Silakan Anda menjawab, berdasarkan pendapat Anda sendiri, dengan sendirinya berdasarkan suatu argumentasi yang mapan.

Saya menjawab dari sudut pandang menerangkan asal-usulnya yang tidak dapat dibantah:

Gastroenterologi = pengkhususan kajian ilmu kedokteran tentang dinamika sehat dan sakit organ saluran cerna beserta organ penunjangnya.

Persoalan menjadi timbul karena banyak usulan baru misalnya adalagi hepatologi, pancreatologi, dsbnya. Jadilah kerancuan apakah benar ada apa yang disebut Gastroenterologi. Jadi sebenarnya tidak jelas apa itu gastroenterology. Namun demikian pemaknaan istilah gastroenterology sebagai nama suatu profesi dapat dibenarkan sebagai profesi yang menunjuk pada pengkhususan. Di Indonesia kemudian digabung menjadi satu profesi dengan nama konsultan Gastroenterologi – Hepatologi.

Etika dalam Gastroenterologi & Hepatologi

Etika dalam bidang gastroenterology dan hepatologi tidak berbeda dengan etika medik yang bersumber pada 4 dasar, yaitu berguna (beneficence), non mal efisience (do not harm), keadilan (justice), dan autonomi.

Etika Medika legal dalam bidang gastroenterologi

Pada masa sekarang para dokter harus senantiasa memperhatikan aspek etik dan hukum dalam melaksanakan profesinya. Salah satu yang penting adalah perlu disadari konsep mutu professional, keselamatan pasien dan kepuasan pasien. Hal ini penting karena ruang lingkup pekerjaan gastroenterology dan hepatologi meliputi pekerjaan yang infasif.


DAFTAR PUSTAKA

Salomon, Robert C., Kathleen M. Higgins. The Short History of Philosophy. New York: Oxford University Press. 1996. Penterjemah: Saut Pasaribu, Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. 2002.

Yuyun Suria Sumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1998.

 

6 Komentar

Filed under global

6 responses to “Filosofi dalam bidang Gastroenterologi

  1. met mlm pa prof. nama sy boby di palu.sy blh bertanya? pertanyaan sy mengapa sistematika filsafat bersifat subjektif? yg bgm mana dikatakan titik temu antara filsafat dgn ilmu, dan filsafat dgn agama?
    trimakasih atas penjelasannya.

  2. Yth Boby yang baik, suatu sistematika adalah suatu cara untuk mempelajari atau menjelaskan. jadi sistematika banyak sekali modelnya.
    filsafat + ilmu = obyektif, benarnya bagaimana
    filsafat + agama –> agama mengilhami filsafat, dan sebaliknya.
    Allah yang mahakuasa – arti dalam agama.
    Allah dan Brahman dan Hyang Widi Wasa, Yahweh, Tuhan itu sama atau beda = kajian filsafat.

  3. risky yudha putranto

    Dear Pak Prof..
    Dalam banyak ilmu di universitas, kenapa filsafat hanya menjadi suatu pengantar saja? padahal menurut saya filasafat adalah “lahan” sebelum kita membuat atau mempelajari teori-teori.
    Saya sangat bingung, walaupun sejujurnya saya juga bingung mempelajari filsafat. Tapi saya yakin jika saya dapat memaknai filsafat, saya akan mempunyai landasan yang kuat dalam mempelajari/memperkaya teori.

    Hormat saya
    Risky Yudha Putranto

  4. Sdr. Rizky,

    Bila kita belajar filsafat ibarat mendapat mata baru. jangan bingung belajar filsafat, baca saja, tidak perlu ngerti dan jangan percaya, yang penting jangan jadi pengikut. Do not be follower, young man..

    salam,

  5. Mas risky , senang saya bahwa Anda senang filsafat. Saya juga penggemar filsafat sampai dipercaya jadi dosen filsafat kedokteran.Dengan filsafat kita seolah mendapat mata baru dalam memandang peristiwa. Membaca buku filsafat seolah membaca barang kosong , aneh nya kumpulan barang kosong isinya sangat padat dan indah .prof daldy

  6. Dear Pak Prof..
    memang saya mendalami ilmu komunikasi pada s2 saya…tapi
    mungkin hanya filsafat yang membebaskan saya dari aturan2, membebaskan pikiran saya untuk mencari kebenaran…masuk dalam puzzle2 kehidupan yang sangat menarik diselami. Tapi harus saya akui, filsafat juga yang membuat saya menjadi skeptis dengan kehidupan, bahkan dengan diri saya sendiri…apakah saat Bapak muda dulu mengalami hal seperti saya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s