Separuh Hati bagi si Buah Hati

by : Nunik Triana
Kini orang yang hidup pun dapat memberikan separuh hatinya bagi penderita gagal hati kronik atau dikenal dengan prosedur Living Donor Liver Transplantation (LDLT).
HARAPAN hidup bagi mereka yang Anda sayangi yang kebetulan menderita gagal hati kronik dan membutuhkan transplantasi atau pencangkokan kini semakin terbuka lebar. Jika dahulu hati cangkokan hanya dapat dilakukan dari pendonor yang meninggal, kini mereka yang hidup pun dapat memberikan separuh hatinya bagi penderita atau dikenal dengan prosedur Living Donor Liver Transplantation (LDLT). Tingkat keberhasilan transplantasi yang terutama disebabkan oleh penyakit hati hepatitis C ini cukup tinggi, yaitu 75 hingga 85 persen pada tahun pertama. Bila dapat bertahan di tahun tersebut, setidaknya penderita dapat hidup normal hingga ajal menjemput.Prosedur LDLT membawa banyak keuntungan. Salah satunya adalah mengurangi waktu tunggu. Sekali donor hidup sudah teridentifikasi, pembedahan dapat dilakukan dalam hitungan jam atau hari, tergantung pada urgensi penerima.

Pengurangan waktu tunggu ini secara otomatis juga akan menyelamatkan pasien yang harus menunggu lama dengan cara transplantasi konvensional. LDLT juga mengizinkan pasien dan dokter memilih waktu transplantasi. Sementara dengan transplantasi konvensional, pembedahan baru bisa dilakukan setelah identifikasi donor dilakukan selama 12 jam.

Konsultan Gastroenterolog-Hepatologi dan Guru Besar Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Daldiyono menyatakan, transplantasi hati dari orang yang masih hidup lebih baik dibanding dari organ yang diambil dari orang yang telah atau akan meninggal. Ia menjelaskan, hati manusia menjadi dua yaitu kanan dan kiri. Dalam proses pencangkokannya, hati pendonor-yang kiri atau yang kanan– akan diambil untuk kemudian diberikan kepada penderita.

Ia menyarankan agar hati sebelah kiri yang lebih baik didonorkan karena lebih kecil. Setelah hati dicangkokkan, maka secara alamiah hati tersebut akan beregenerasi untuk kemudian membentuk sel baru hingga hati sebelahnya terbentuk secara sempurna.

Namun, menurutnya, tidak semua orang yang menderita kerusakan hati harus menjalani transplantasi. “Hanya mereka yang memiliki hati tinggal 20 persen dan diprediksi akan rusak terus yang harus menjalani transplantasi,” katanya. Sedangkan jika pasien yang hatinya rusak sepertiga, atau setengahnya dan diprediksi dapat membaik maka tidak perlu menjalani prosedur transplantasi.

Alasannya, menurut Daldiyono, jika terobati dengan baik maka hati secara alamiah akan sembuh kembali melalui proses regenerasi. “Itulah keistimewaan hati kita, mampu meregenerasi diri menjadi utuh kembali. Makanya, pasien itu harus positif menjalani pengobatan, jika hatinya tinggal sepertiga ia masih memiliki kemungkinana hidup, bahkan sampai tua,” katanya.

Bagaimana sesorang bisa menjalani hidupnya dengan separuh hati? Menurut Daldiyono mereka tetap dapat hidup secara baik dan normal seperti tidak terjadi apa pun pada hatinya. “Tidak ada yang berubah karena hati akan tumbuh kembali,” tuturnya. Ia mengatakan, setidaknya dibutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun, untuk hati dapat tumbuh dan berfungsi seperti semula.

Namun, sama halnya dengan prosedur transplantasi organ tubuh lainnya, pencangkokan hati dari jaringan donor ke jaringan resipien (penerima) harus memiliki kesesuaian semaksimal mungkin. Sebabnya, pencangkokan jaringan dan organ merupakan suatu proses yang rumit, di mana dalam keadaan normal sistem kekebalan akan menyerang dan menghancurkan jaringan asing.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat dilakukan pencangkokan yaitu pencarian donor yang sesuai, kemungkinan timbulnya risiko akibat pembedahan, pemakaian obat-obat immunosupresan yang poten, kemungkinan terjadinya penolakan oleh tubuh resipien, serta kemungkinan terjadinya komplikasi atau kematian.

Sekelompok antigen yang disebut human leukocyte antigen (hla) yaitu antigen yang paling penting pada pencangkokan jaringan lain, merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Semakin sesuai antigen hla-nya, maka kemungkinan besar pencangkokan akan berhasil.

Oleh karena itu, sebelum suatu organ dicangkokkan, jaringan dari donor dan resipien diperiksa jenis hla-nya. Dalam hal ini hanya kembar identik yang memiliki antigen hla yang benar-benar sama. Sedangkan pada orang tua dan sebagian besar saudara kandung, beberapa di antaranya memiliki antigen yang sama. Di mana satu diantara empat pasang saudara kandung biasanya memiliki hal tersebut.

Namun, kabar terakhir, seperti dikutip dari New England Journal of Medicine dan dilaporkan oleh abcnews, mereka yang ingin mendonorkan separuh hatinya kepada orang lain sebaiknya telah mempertimbangkan masak-masak keputusan ini. Pasalnya, risiko kematian donor hidup ternyata lebih tinggi dari perkiraan semula. Hal ini seperti yang terjadi pada seorang donor yang meninggal bulan Januari tahun 2002 di salah satu pusat transplantasi hati terbesar di New York. Sekitar 10 persen dari semua transplantasi hati yang berlangsung pada tahun 2001 di Amerika Serikat memang dilakukan dengan menggunakan donor hidup.

Hingga kini transplantasi hati dari donor hidup di Indonesia memang masih belum banyak dilakukan. Menurut Daldiyono, baru Rumah Sakit Dr Karyadi Semarang saja yang melakukan prosedur ini. “Sebenarnya dari 15 tahun lalu sudah mulai dicanangkan program ini, tetapi masih terkendala oleh biaya yang lumayan tinggi dan kemungkinan sulit terjangkau,” katanya. Kata Daldiyono, setidaknya untuk melakukan transplantasi jenis ini diperlukan biaya Rp500 juta.

Meskipun begitu, ia menambahkan, ke depan dunia kedokteran Indonesia kemungkinan akan menggunakan stem cell atau sel induk sebagai pengganti jalur transplantasi. Induk sel, khususnya untuk hati, bisa diambil dari sum-sum tulang belakang penderita untuk kemudian dirawat hingga membentuk bakal sel hati, yang kemudian dimasukkan ke hati penderita. “Jadi, pada masa depan kemungkinan tidak ada lagi transplantasi hati,” katanya.

 

 Artikel diambil dari sini
About these ads

3 Komentar

Filed under global

3 responses to “Separuh Hati bagi si Buah Hati

  1. naufaldy

    Saya pria usia 35th,sehat jasmani dan rohani.Bersedia mendonorkan LIVER Golongan darah B+.
    ” MEDICAL CHECK UP BAGUS\\\” bagaimana dan kemana saya akan menyalurkan keinginan aya ini. atas bantuannya saya sampaikan terima kasih. 0331. 7174094

  2. Yth. Bpk Naufaldy,
    Silakan menghubungi divisi Hepatologi bagian Ilmu Penyakit Dalam RSCM kontak: Dr. Irsan Hasan atau Dr. Rino. terima kasih.

    salam

  3. Irsan

    Setelah saya membaca dan mdngkaji seksama,saya juga terdorong ingin menjadi seorang pendonor hati.
    Saya pria usia 27tahun.
    Sudah terbukti sehat rohani dan jasmani,karena saya telah di general chec up di rs.cikini,dan sy sudah pernah mendonorkan ginjal kanan sy pd kaka saya.
    Harus kmana langkahnya?
    Apbila memang ada yg membutuhkan,hubungi saya, di :087721942242

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s