Dokter yang Tak Hanya Menulis Resep

Friday, 22 September 2006

memang kebanyakan profesor punya banyak sikap unik,tapi keunikan profesor yg satu ini lumayan bisa dijadikan masukan fren!

Dokter yang Tak Hanya Menulis Resep

Wajah Profesor Dr dr Daldiyono Harjodisastro SpPD KGEH tampak sumringah pada Kamis (15/6) menjelang siang di ruang kuliah Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Pada hari itu, pria kelahiran Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tepatnya tidak jauh dari lereng Merapi itu, meluncurkan buku pertamanya berjudul Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja, yang diterbitkan PT  Gramedia Pustaka Utama. Ingin bahagia. Itulah obsesi Daldiyono. Untuk meraih itu, dia pun tidak mau “diperbudak” pekerjaan, karena di antara kesibukannya mengobati pasien-pasien, Daldiyono memberi porsi untuk membaca, menulis buku, dan bermain drama. Tentu, kebahagiaan itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Menurutnya, seorang dokter haruslah bekerja berdasarkan esensi etika, yaitu kasih sayang dan akhlak mulia. Karena, profesi dokter, amal dan saleh. Dokter adalah pelayan bagi pasien, sehingga ketika bekerja seorang dokter hendaknya mengaplikasikan prinsip etika.

Membatasi Pasien Mungkin tidak banyak dokter yang masih menyempatkan diri menulis buku atau novel di antara kesibukan sebagai dokter. Sudah menjadi pandangan umum di kota besar, dokter yang telah meraih gelar profesor memiliki banyak pasien. Jadi, tidak mengherankan seorang profesor berpraktik sampai dini hari. Namun, bagi Daldiyono, waktu sepanjang 24 jam tidaklah dihabiskan dengan mengurus pasien saja.

“Saya selalu membatasi jumlah pasien. Sehari cukup 20 pasien. Bila saya memiliki 100 pasien sehari tetapi
melayani 20 pasien saja, maka teman sejawat saya yang lain bisa kebagian pasien. Selain itu, saya memiliki
cukup waktu memeriksa setiap pasien saya. Butuh waktu setengah jam untuk memeriksa seorang pasien,” ujarnya. Menuangkan ide dalam tulisan sudah dilakukannya saat mahasiswa di FKUI, sebagai wartawan pada majalah kedokteran tahun 1962-1966. Untuk dapat menulis, menurutnya, harus ada niat. Melalui tulisan, Daldiyono pun menuangkan aspirasi dan ilmu dengan harapan orang lain mengetahui pemikirannya. Selain itu, orang yang membaca juga memperoleh manfaat. Prinsipnya, melalui tulisan seseorang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga orang lain. Sama dengan wartawan, menulis untuk kepentingan masyarakat. Terhadap apa yang diperoleh dan dijalaninya selama ini, dia bersyukur kepada Tuhan. Dia mengaku bukanlah orang yang memiliki uang, sehingga akhir pekan Sabtu dan Minggu dihabiskannya di rumah dengan menulis. Hari libur pun diisi dengan menulis dan membaca. Bahkan, saat menunggu keberangkatan pesawat di bandara, Daldiyono juga menulis. Beberapa karya tulisnya yang akan diluncurkan adalah “Pasien Pintar dan Dokter Bijak”, “Menjaga Kesehatan Mencegah Penyakit Berkembang”.

Dengan diluncurkan buku Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja diharapkan dokter Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri. Menurut Daldiyono, yang meraih gelar doktor ilmu kedokteran pada 1995 dengan disertasi berjudul Tukak Stres pada Penderita Stroke itu, masih ada kekhawatiran masyarakat terhadap dokter. Terbukti sebagian masyarakat masih berobat ke luar negeri. “Tidak mungkin orang berobat ke luar negeri kalau dokter di sini sudah bagus. Kita harus jujur, kita kurang bagus. Kekurangannya terletak pada komunikasi pada hubungan dokter dan pasien,” tuturnya.

Membuka Diri Dokter, katanya, harus membuka diri dan pasien diberi kebebasan (otonomi), misalnya dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Bukan dokter yang mengambil keputusan untuk seorang pasien. Justru, katanya, di dalam undang-undang praktik kedokteran dianjurkan masyarakat mencari pendapat (second opinion) dari dokter lain. Di sisi lain, pasien masih berharap berlebihan terhadap dokter. Misalnya, semua pasien harus sembuh. Daldiyono yang memperoleh gelar profesor tahun 1997, berpendapat agar seorang dokter benar-benar menjadi dokter, harus memiliki keterampilan klinik, keterampilan berpikir, bekerja dengan benar, dan bisa berkomunikasi secara baik dengan pasien. Di FKUI, komunikasi interpersonal diajarkan sejak 1986. Selain itu, dia mengingatkan profesi dokter bukanlah suatu cara untuk menjadi kaya. Anggapan di masyarakat profesi dokter adalah lahan subur untuk menumpuk kekayaan adalah pemahaman yang salah. Bila seseorang mengharapkan kaya dari profesi dokter, maka dokter itu pada akhirnya akan bosan.

“Dokter itu mudah sekali menjadi kaya kalau dokter jelek. Dokter jelek itu menipu pasien. Misalnya mengatakan ‘Anda sakit ini, mestinya begini…begitu…’ kepada pasien. Padahal tidak benar. Jadilah seorang dokter yang baik dan membahagiakan pasien. Kalau mau jadi dokter jangan ingin kaya, tetapi cukup,” sarannya. [Pembaruan/Nancy Nainggolan]

 

artikel diambil dari sini

About these ads

14 Komentar

Filed under global

14 responses to “Dokter yang Tak Hanya Menulis Resep

  1. terima kasih atas tulisan yang prof..tuangkan dalam buku ” Pasien Pintar & Dokter bijak”….ini akan membuat para sejawat yang “tidak bijak” akan membenahi diri untuk lebih “bijak” lagi dalam menangani pasiennya…sekali lagi trima kasih prof…
    salam hormat..

  2. Dr Marewa: terima kasih atas perhatiannya, saya gembira Anda setuju dengan saya. Salam.

  3. Salam kenal prof, saya paling suka sekali mendengarkan prof pd saat simposium atau seminar, penjelasan prof dpt memacu adrenalin saya sbg dokter sangat memberikan pencerahan.
    Dan saya juga sudah baca habis kedua buku prof dan o ya kpn prof, buku How to be a Real Student serta novelnya terbit ?
    Dari :

    http://drrizkyp.wordpress.com

    http://rizkyp13.multiply.com

    http://dr-rizkyp.blogspot.com

    Terima Kasih

  4. Yts. Dr. Rizky Perdana, terima kasih banyak.

    Tolong disebarluaskan, saya berusaha meratakan jalan buat “adik-adik profesi” dokter agar, berprofesi dengan bahagia, tidak digodain lawyer berani “berprofesi secara ksatria” dengan “sangat memperhatikan pasien”. Buku novel sudah terbit, dan 2 buku segera terbit, “How to be a Real Student” dan “Hemat Emosi”. Saat ini sedang menulis “Budaya Akademik dan Ilmu Slamet/Kejawen”.

    Salam,
    Prof. Daldi

  5. Ivan

    Assalamualaikum,
    Salam kenal Bapak Daldiyono,
    Saya punya cita-cita menjadi seorang dokter dan saya ingin memantapkan hati saya untuk menjadi seorang dokter. Oleh karena itu, saya meminta tolong bantuan Bapak untuk menjawab pertanyaan saya ini yang mendasar sekali. Menurut Bapak,
    Apakah sebenarnya dokter itu?

  6. Sdr Ivan,

    Terima kasih, saya bersyukur ada anak muda ingin menjadi dokter. Sudah saya tulis dalam buku saya, sbb:

    Bila ingin kaya, jangan jadi dokter, hidup cukup dengan berhemat, itulah caranya.

    Bila ingin menyembuhkan orang sakit, jangan jadi dokter, akan kecewa karena banyak yang meninggal dunia, dan hanya Allah yang menyembuhkan/Asysurra 80: “Bila aku sakit Allah yang menyembuhkan”.

    Bila ingin menolong orang yang sedang sakit dengan amal ilmu, mau kerja dengan ikhlas dengan penghasilan pas-pasan tapi hidup bahagia, jadilah dokter. Ini yang saya ajarkan pada mahasiswa; “I will never teach you to be a rich doctor, my concern is please be happy as a doctor.”

    salam.

  7. lusiana

    prof,tulisan prof benar-benar membuka hati saya.terutama pada kata-kata kalo jadi dokter jgan kepingin kaya yang penting cukup.itulah prinsip2 yang mulai memudar belakangan ini.terima kasih prof.dr.lusiana.

  8. Yth. dr. Lusiana.

    Terima kasih. Silakan baca juga buku sayang yang lain. Anda membaca dimana?

    salam

  9. Nanies

    Aww, saya sependapat dengan bp, saya seorang pengajar disebuah PT-FK yang sangat prihatin dengan para calon dokter yang terlalu berharap untuk kaya dengan secepatnya setelah lulus, yang kadang dengan mengesampingkan nurani, salah satu contoh bekerjasama dengan pabrik obat dll, yang berdampak kurang menguntungkan pada pasien pengguna obat.
    Saya sangat berharap masih banyak calon-calon dokter yang berpandangan seperti bp, agar tak lebih banyak korban mis. dalam polifarmasi,dll.(sebagai salah satu dampak ambisinya tsb). Amin.,,,,,,

  10. Terima kasih dr. Nanies,
    kita dapat berbagi rasa dan dapat pula bersama-sama membangun budaya (culture) profesi Kedokteran di Indonesia.
    Kita sebenarnya telah dihukum oleh rakyat, tidak lagi sepenuhnya dipercaya. Pasien masih sangat khawatir bila sakit, lain dengan 40 tahun yang lalu, dokter sangat dipercaya. Saya sudah 45 thn jadi dokter.

  11. bvrhan

    Prof, apa obat yg paling ampuh untuk membunuh cacing yg berada dibawah permukaan kulit?

  12. NUGROHO

    salam sejahtera,

    Prof melihat mahalnya biaya pengobatan sehingga membuat banyak orang yg sakit tdk mau ke dokter tetapi memilih pengobatan alternatif atau membeli obat bebas, bagaimana kalau prof mengajukan usul ke IDI / DEP KES untuk membuat iklan layanan dengan bentuk drama / film pendek tentang hidup sehat dan pentingnya orang yg sakit harus berobat ke dokter atau rumah sakit dengan membandingkan biaya dokter / rumah sakit dengan hsl. yg didapat dari pekerjaannya dengan keadaan tubuh yg sehat dengan demikian masyarakat kita akan sadar artinya ke dokter / rumah sakit dan tdk merasa terbebani dengan biaya yg dikeluarkan dibandingkan hsl. yg didapat dari berobat adalah kesehatan dimana dengan sehat kita bisa bekerja dan dapat menghasilkan lebih banyak uang, ini hanya sedikit saran saya untuk membantu pemerintah untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat tentang hidup sehat dan pentingnya berobat ke dokter / rumah sakit bila sakit, thanks prof

  13. Sdr. Nugroho,

    Sebenarnya ke puskesmas dengan obat generik masih terjangkau. Saya senang dengan usul Anda.

    salam,

  14. margaretha

    saya sangat setuju dengan pendapat prof, mengenai tujuan menjadi dokter. sejak kecil sy sdh bercita2 menjadi dokter, itu bukan krn biar cepat kaya, tp krn dokter itu menolong orang.. memang sangat disayangkan banyaknya dokter2 yang tidak lagi mementingkan kesembuhan pasiennya, tp lebih mementingkan kesehatan kantongnya sendiri. di lain pihak, masyarakat terlanjur menganggap dokter itu banyak uangnya..jadi kalau dokternya tidak punya mobil pribadi pun jadi tidak dipercaya (spt saya contohnya). namun itu juga tidak membuat sy malu, krn buat sy lebih baik sy punya banyak waktu lebih utk keluarga dan hobi saya (kristik) daripada saya ngoyo cari uang. oh ya prof, sy cari buku prof yang pertama kok nggak ketemu ya di gramedia dan gunung agung? dimana sy bisa mendapatkannya ya prof? trims prof..semoga prof sehat selalu,amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s